Monday, June 26, 2017

Cara Mendamaikan hati ketika pertanyaan KAPAN Tak Berujung Singgah di Telinga Kita



Momen lebaran pastinya menjadi ajang untuk silahturahmi, yang biasanya jarang bertemu di momen ini Allah kumpulkan untuk saling maaf memaafkan. Tapi, selain saling memaafkan tanpa kita sadar terkadang lidah kita kembali membuat ulah dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin melukai hati sesama, atau membahas sesuatu yang tidak ingin orang lain bahas. Seperti sebuah tradisi, merangkum segala pertanyaan dengan awalan KAPAN.

Kapan lulus? Kapan kerja? Kapan nikah? Kapan punya anak? Dan kapan-kapan lainnya. Saya sering sekali mendengar pertanyaan KAPAN, baik itu tertuju kepada saya sendiri maupun kepada sesama. Agak aneh sih hati saya, ketika pertanyaan KAPAN itu menyasar kepada diri saya, saya mungkin akan merasa risih sebentar dan selebihnya saya akan dengan mudah melupakan. Berharap rasa risih itu tidak berlanjut ke hati.

Nah yang membuat saya lebih risih adalah ketika pertanyaan KAPAN tersebut diarahkan untuk orang-orang terdekat saya. Seperti ada yang menusuk hati saya, apalagi jika pertanyaan KAPAN terlalu sering berulang. Risih sekaligus kasihan, seperti tidak ada bahasan lain saja. Tapi ya susah ya, karena kita tak bisa membungkam seenaknya mulut orang meski orang tersebut sebenarnya yang bersikap seenaknya terhadap perasaan orang lain.

Pertanyaan KAPAN yang biasa terlontar untuk kita-kita yang masih jomblo biasanya seputar kapan lulus, kapan kerja atau kapan nikah. Naik tingkat dikit ketika kita sudah menikah pertanyaan yang menurutku lumayan ekstrim adalah kapan punya anak. Saya merasa lucu saja, karena sebenarnya pertanyaan tersebut pada dasarnya tak perlu diajukan. Hey! Itu urusan Allah, bukan urusan para pemberi tanya. Lagi pula siapa sih yang tak ingin punya anak setelah menikah?

Kita terbiasa untuk hidup penuh perbandingan, karena pertanyaan KAPAN tersebut berasal dari mata yang membandingkan kelebihan duniawi satu sama lain. Untuk ukuran jomblo yang telah lulus sekolah, pertanyaan pasti yakni kapan kerja dan kapan menikah. Nah yang saya heran dari dua pertanyaa tersebut adalah yang pertama kapan kerja, saya bingung sebenarnya apa sih makna kerja di setiap kepala kita? Pernah dengar cerita seseorang, dia sebenarnya sudah bekerja sebagai kasir di sebuah toko swalayan, tapi yang lucu setiap orang tuanya ditanya orang lain pasti Ibu atau Bapaknya akan menjawab ‘Belum kerja’ dan disambung dengan jawaban lain yang mendukung suasana hati seorang anak menjadi hancur lebur. Apakah makna KERJA itu setelah kita berhasil mendapatkan pekerjaan di instansi pemerintahan saja kah? Entahlah, tapi yang pasti apa yang sudah tertanam di pikiran masyarakat kita pekerjaan hanya akan diakui sebagai pekerjaan apabila gaji yang didapat besar dan terikat oleh instansi pemerintahan.

Lalu pertanyaan membingungkan lainnya adalah kapan nikah. Setelah bertanya perihal itu apakah orang yang kita tanya kapan nikah melapangkan hatinya untuk menerima pertanyaan absurd seperti itu? Bahkan tanpa kita sadari mungkin saja terdapat garis codet tak terlihat lagi di hatinya. Kadang imajinasi kata-kata saya berkembang, bagaimana bila mereka yang terlalu sering diberi pertanyaan KAPAN tersebut bertanya balik kepada kita kapan nyusul ke alam kubur? Sebelum pertanyaan tersebut terlontar, bila kita bisa membaca apa yang hati orang lain katakana pasti akan segera marah. Lalu bagaimana caranya agar pertanyaan KAPAN itu berimbang untuk kita semua? Bila tak ingin ditebar garam di daerah luka, maka jangan menebar garam pada luka orang lain.

Tapi susah, belum tentu orang lain dapat mengerti dan mau menerima penjelasan sakit hati yang kita alami. Cara amannya adalah kita yang harus mendewasakan perasaan. Bukan berarti kita tak berhak marah, tapi kita sangat berhak untuk tenang setelah lisan mubazir orang lain mempertanyakan banyak hal yang jawabannya sendiri hanya Allah yang tahu. Ada baiknya setelah bertanya banyak hal tentang KAPAN, kita dapat memberikan solusi. Misal nanya kapan punya anak? Dengan kesadaran yang penuh kita membantu menyediakan segumpal daging yang nantinya akan berubah menjadi sosok seorang anak. Bagaimana? Adil bukan?

Berikut akan saya share bagaimana cara mendamaikan hati ketika pertanyaan KAPAN tak berujung tersebut singgah di pendengaran kita, yakni:

Pertama,

Dengarkan namun jangan sampai pendengaran kita mencelakai hati kita. Bagaimana caranya? Mudah, cukup dengarkan dan ada baiknya ubah pesan pendengaran tersebut sebagai pemacu usaha dan kekayaan doa untuk kita. Alangkah sangat rugi bila pesan KAPAN tersebut malah terkirim ke hati. Yang ada nantinya kita sakit karena memikirkan omongan orang terus menurus. Karena sejatinya mata manusia itu hanya biasa menilai apapun berdasarkan unsure duniawi saja. Sedangkan Tuhan melihat hambanya dengan sangat bijak, yakni dengan melihat proses dan kesabaran dari sang hamba. Lalu apa lagi yang perlu kita risaukan bila Tuhan ada dan selalu melihat kita dari sudut keadilan?

Kedua,

Bila dirasa terlalu sering pertanyaan KAPAN tersebut dan semakin lama semakin membuat hati kalian menjadi sakit, ada baiknya kalian senyumin saja. Selanjutnya tinggalkan ruangan tersebut, beralihlah ke luar dan hiruplah udara yang sedikit segar. Terlalu lama atau bertahan lama di tempat tersebut hanya akan membuat kalian semakin penat.

Ketiga,

Berwudhu untuk menghilangkan amarah yang mungkin tersimpan di hati. Selanjutnya kalian bisa meneruskannya dengan amalan-amalan baik seperti banyak-banyak berzikir, salat atau boleh juga mengisi waktu dengan cara membaca buku-buku bermanfaat. 

Semoga sedikit tips dari saya bisa mendewasakan perasaan kita terhadap orang lain. Dan semoga kita semua dapat saling mengingatkan hal-hal baik terutama hal baik atas apa yang akan disampaikan kepada saudar saudari kita, karena perkara hati manusia sangatlah riskan untuk terlalu dipertanyakan terlalu dalam.

Bila ada salah-salah kata yang sengaja dan tidak di sengaja dari saya mohon dimaafkan dan mohon dikoreksi ya, Sahabat. J

22 comments:

  1. Pertanyaan lain yang nyebelin juga..
    "Sekarang krja dimna?"
    "Di rumah"
    "Nggak kerja lagi..,?"

    (Heloooo..mau momong anakku po....? Blm pernah ngrasain yaa...kerjaan rumah tangga itu hilang satu tumbuh seribu...)
    *ha..ha, mlh curhat

    ReplyDelete
    Replies
    1. "mau momong anakku po?" pasti jawabannya "ora" tapi mulut gak bisa direm ya mba buat nanya yang kurang mengenakan ke orang lain. Gpp, jd pelajaran buat kita biar gak seenaknya berucap. Haha, aku jg sedikit curhat itu Mba :-D

      Delete
  2. KAPAN Nikah? "pertanyaan paling horror bagi jomblo akut" hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe bener banget Mba, serem sekaligus memotivasi :-D

      Delete
  3. Setuju sama kak Sulis, pertanyaan berikutnya adalah : " kapan ngasih adik buat si kecil?" Haisssh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak kelar-kelar ya Mba urusan pertanyaan "KAPAN" sebelum napas kita terhenti hehe

      Delete
  4. Kapan oh kapaan 😂 aku sebel kalau uda mulai ditanya-tanyaain kapan gtu mbaak. Udah disenyumin ajaa ndak perlu diambil serius. 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba, aku pun sebel. Berasa gak ada pertanyaan lain aja hehe...
      harus begitu memang, biar senyuman manis kita yg jadi jawaban #eeeh

      Delete
  5. Tapi jarang banget yah yang tanya kapan blognya update?
    Hehehehe... Siapa tahu dengan pertanyaan seperti saya bisa rajin menulis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya kalo pertanyaan itu mah cocok buatku Mba hahaha...
      Harusnya memang pertanyaan itu yang membangun dan menantang seperti ini :-D

      Delete
  6. "Kapan Nikah?", buat orang mungkin pertanyaan horor, tapi sekarang ini sih kalau ditanya gitu saya jawab "do'a in aja InsyaAllah secepatnya" habis tu ketawa bareng (padahal calonnya juga belum ada) 😂😂.

    Setelah baca tulisannya mba septia saya jadi khawatir dan lebih memahami maksud tulisannya. sekarang sy umur 23 mungkin jawab pertanyaan kyk gitu msh bisa ketawa, tapi gtw nanti seandainya umur makin tua dan masih belum nikah (semoga enggak ya Allah) kalau pertanyaan kyk gitu terlontar bisa jadi sakit menusuk 🔪 ke hati 💔 menghujam jantung ya.. 😨😨

    Semoga bisa terus saling berkunjung ya
    Salam
    Penikmat Nafas

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya Mas bisa sakit kalo dimasukin ke hati banget mah... makanya kudu disaring yg perlu-perlu aja masuk ke hati mah hehe

      Delete
  7. Hehe betul mbak dengerin aja jangan terlalu dibawa baper ntar yang rugi kita sendiri kan yaa.. itu kerjaannya orang2 kepoo..

    Atau jawab aja : kapan-kapan, kan nggak ada tenggatnya tuh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe.. Salah komen...

      Betul bangeet Mba, lagian jadinya kita rugi dua kali kalo terlalu masukin ke hati

      Delete
  8. pertanyaan ekstrim banget soal "kapan nikah?..
    nice post..
    jgn tanya kapan ya..

    hehehe

    darumanihongo.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tanya deh.. Jadi kapan Nikah Mba? Hehe

      Delete
  9. Nah itu dia yang jarang manusia sadari bahwa pertanyaan Kapan membuat banyak orang bingung,, Kapan nikah.. beberapa tahun lagi ditanya kapan punya anak.. 10 tahun kemudian ditanya lagi kapan punya cucu dst.. gak ada habisnya ya mba.. yang penting kita menyikapi dengan sabar dan bijaksana..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget Mba Vika, gak ada habisnya kalo kita ngikutin rasa sakit hati karena pertanyaan KAPAN, ada baiknya setelah kita tahu bahwa itu menyakitkan, kita jadi lebih pintar menata hati

      Delete
  10. kapan menyusul ke alam kubur ,,

    pertanyaan terhoror melebihi "kapan nikah"???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mending ngumpet kalo udah ditanya gt hehe

      Delete
  11. saat ini saya berada di fase pertanyaan "Kapan punya anak? kok belum isi? Jangan ditunda-tunda"

    Huaaaa,, Seadainya jawaban pertanyaan tsb bisa kita yg tentukan. hihihi..

    Salam kenal mba Icha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya paham gimana rasanya ditanya seperti itu dan sulit untuk menjawab seenaknya hehe.

      Jawab aja, "nanti ngisinya kalo udah Allah isi."

      Tp gpp, Semoga pertanyaan dari mereka menjadi doa bagi Mba untuk segera punya momongan, Aamiin ya Robb 😊👏

      Salam kenal juga Mba Chan 😊

      Delete

Silahkan tinggalkan jejak, Teman. Gunakan bahasa yang baik agar silahturahmi dan diskusi kita menyenangkan. Saya pun akan berkunjung balik ke Blog kalian. Tolong untuk tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar. Terima Kasih :-)